“Deaa…cepet ambil kunci mobilnya !!” suara itu
menggema hingga ke ujung rumahku yang cukup luas ini.
“Iya bentar, suara lo kayak tikus kejepit aja kak.
Huh.” jawabku kesal
Kita
adalah 2 bersaudara. Lebih tepatnya saudara kembar, Dea dan Dilla. Saat ini
kita berada di satu sekolah yang sama. Satu kelas pula, di kelas XII Ipa 4 SMA
1 Surabaya.
Hari
ini, kak Dilla mengajakku ke sebuah GOR di Surabaya. Aku sih males banget
sebenarnya. Paling diajak main basket lagi. Huh –,- Ya! Itu yang selalu
dilakukan kak Dilla tiap hari minggu. Wajar saja sih, soalnya dia adalah basket
mania. Dan kekasihnya (si Bagas) pun juga atlit basket. Tapi entah kenapa aku
berkebalikan sekali dengan saudara kembarku ini, aku sama sekali tidak tertarik
dengan olahraga.
Sesampainya
di GOR, kak Dilla memarkirkan mobil fortunernya,ambil bola basket di bagasi,
langsung lari dan mendribble bola basketnya masuk ke dalam lokasi.
“Kak,tungguin aku dong !!!” teriakku kepadanya
“Ayo cepat lari… Kita tanding 1 lawan 1 !!”
sahutnya sambil terus mendribble bola kesayangannya itu.
“Hah! Apa-apaan ! Jelas aku yang kalah dong -,-!”
gerutuku
“Haha.. yang kalah teraktir makan ya !!” kata kak Dilla
dengan tertawa penuh kemenangan
“haaahh modus !!” jawabku ketus
Akhirnya,
dengan berat hati aku ikut bermain dengan kak Dilla . Walaupun aku tidak pernah
suka sama yang namanya basket, tetapi sedikitnya aku mengerti teknik-teknik
bermain basket yang baik. Beberapa menit berlalu, dan benar saja aku kalah dari
kak Dilla dengan score akhir 4-12.
“Sial.. harus nraktir kak Dilla deh-,-“ gumamku
Kita
berdua pun menuju ke warung makan terdekat, itung-itung sarapan. Seusai nraktir
makan kak Dilla, aku kembali ke lapangan basket…
“Makasih Dea sayang buat traktirannya J Kita main lagi yuk ?”
ajaknya
“Huuu.. ah males -,-“
“Jangan cemberut dong. Yaudah aku main sendiri
deh.“
Setelah
itu,aku duduk di pinggir lapangan basket sambil melihat kak Dilla bermain
basket. Gayanya seolah menyerupai Michael Jordan.
Tiba-tiba…
Duarr ! Aww !!! Aku teriak kesakitan… Kepalaku
terkena lemparan bola cukup keras. Entah darimana asalnya bola itu, yang jelas
bukan bola basket kak Dilla. Tiba-tiba segerombolan cowok dating menghampiriku…
“Maaf banget ya,aku benar-benar tidak sengaja.” kata
salah seorang cowok keren,sambil mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri
“Gampang banget bilang maaf.. Sakit tau -,-“ jawabku
ketus
“Perlu ke rumah sakit?” tanyanya sambil
mengernyitkan keningnya
“Gak!” jawabku setengah berteriak
Tiba-tiba kak Dilla mendekatiku…
“Ada apa ini? Eh.. kak Evan!!” Tanya kak Dilla
kepada segerombolan cowok itu
“Hey Dilla.. Ini, tadi nggak sengaja aku nendang
bola terus kena kepalanya dia.” Jawabnya
“hahaaha.. kasihan banget nih anak. Kenalin kak,
dia adikku. Namanya Dea.” kata kak Dilla sambil melirikku dengan tawa
terbahak-bahak
“Oh ini adikmu. Maaf ya De, aku nggak sengaja
beneran. Eh ya Dil, aku buru-buru nih. Kita mau latihan lagi,udah ditunggu pak Indra
Sjafri. See you later.” katanya kepadaku dan kak Dilla sambil melambaikan
tangan
Setelah
itu, kak Dilla duduk bersamaku di pinggir lapangan basket. Dia terlihat lelah
sekali, dengan keringat bercucuran. Aku pun memberinya sebotol aqua dingin yang
ku bawa di dalam tas.
“Thanks,de” kata kak Dilla
“Kak dil, tadi itu siapa sih? Kok akrab banget
sama kamu?” tanyaku
“What? Kamu nggak tahu dia? Dia itu Evan Dimas
Darmono,atlit sepak bola lulusan SMA Shafta Lontar Citra Surabaya. Sekarang dia
jadi kapten timnas U 19 Indonesia. Posisinya sebagai gelandang!!” kak Dilla
menjelaskan dengan detail
“Oh.” jawabku sepele
“Dasar kamu ini. Mentang-mentang juara OSN,terus
kenalnya cuma sama KIMIA mulu.” kata kak Dilla
“Hehe.” tawaku kecil
Setelah
bercakap singkat, aku dan kak Dilla menuju ke parkiran. Dan kami pun langsung
tancap gas dengan fortuner putih milik papa. Kami pulang menuju kompleks Grand
Wisata Permai Surabaya. Sesampainya di rumah, aku masuk ke kamar,beres-beres
dan tidur.
Hari-hari
telah berlalu…
Aku
menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Dalam bulan ini, ada banyak event
lomba untukku dan kak Dilla. Otomatis
kami sibuk banget persiapan ini itu. Jadi nggak ada waktu buat olahraga
bareng lagi.
Hari
ini adalah hari santai untukku dan kak Dilla,setelah beberapa lama mengikuti
berbagai event perlombaan. Sayang sekali dalam event ini,kita belum menembus
juara. Tetapi meskipun begitu, aku dan kak Dilla tetap semangat dan optimis
karena dukungan mama dan papa yang tak pernah hentinya.
Singkat
cerita, kak Dilla mengajakku pergi jalan-jalan. Seperti dugaanku, dia
mengajakku ke GOR seperti biasanya. Tetapi sekarang berbeda,kak Dilla tidak
mengajakku bermain basket. Justru mengajakku masuk ke dalam stadion. Ternyata disana
sudah ada Bagas dan beberapa teman SMA-ku yang sedang melihat latihan sepak
bola di tribun. Aku pun ikut ngobrol dengan mereka sembari menyaksikan.
Seusai
latihan, para pemain sepak bola itu mendekati kami di tribun. Ternyata mereka
adalah timnas U 19 Indonesia (bintang-bintang hebat Indonesia). Aku melihat ada
kak Maldini,dkk. Dan aku juga melihat seorng cowok yang pernah melempar aku
bola saat duduk di pinggir lapangan basket. Dia berbicara akrab sekali dengan
kak Dilla dan Bagas. Aku hanya terdiam seperti obat nyamuk.
Tiba-tiba
cowok itu duduk mendekatiku. Lalu kak Dilla dan Bagas pergi dengan tawa-tawa
kecilnya.
“Sial -,- aku di tinggal sendirian” gerutuku
“Hai Dea. Masih ingat aku kan? Oh iya, kita belum
kenalan waktu itu. Namaku Evan Dimas Darmono. Biasa dipanggil Evan. Kamu? tanya cowok itu untuk membuka
pembicaraan
“ Hai juga kak Evan. Aku Violadea Maharani. Udah
tahu kan nama panggilannya.” jawabku
“Panggil Evan aja. Jangan pakai “Kak”, aku belum
tua lho,” katanya dengan tersenyum
“Oh..ii..iy..iyaya Evan” jawabku gugup
“Santai aja lagi. Kamu saudara kembarnya Dilla
kan? Anak Olimpiade ciyee”
“Iya.. eh enggak kok. Hehe. Pasti kak Dilla yang
suka ember.”
“Haha, iya dia sering nyeritain kamu.”
“Tuh kan -,-“
30
menit kami berbincang. Evan menceritakan semua pengalamannya dengan bola. Dan
aku terkejut, ketika dia bercerita kalau dia adalah bagian penting dari squad
Timnas U 19 Indonesia. Dia adalah orang hebat, bintang Indonesia,juara piala
AFF 2013 di Sidoarjo,Jawa Timur. Aku benar-benar tidak menyangka,bias kenal
bahkan dekat dengan seorang “bintang” yang tampan rupawan menurutku. Hehe.
Memang sih, dulu kak Dilla pernah cerita soal ini ke aku. Tapi dulu, aku
benar-benar benci sama olahraga. Jadi tidak begitu “ngeh” dengar ceritanya.
Sejak
pertemuan singkatku dengan Evan, timbul dorongan untukku menyukai olahraga
khususnya sepak bola. Setiap ada pertandingan bola, entah di televise atau di
stadion terdekat, aku selalu menonton bersama teman-teman sekolahku, walaupun
Evan tidak mengikuti pertandingan. Orangtuaku pun sampai terheran-heran dengan
perubahan sikapku.
Hari
berganti hari, berganti minggu,bahkan berganti bulan. Sudah lama rasanya aku
tak mendengar kabar Evan. Timbul rasa rindu yang mendalam dihatiku. Kata
beberapa temanku, sekarang Evan lagi sibuk banget sama pertandingan bola. Dia sudah
menjadi bintang terkenal di Indonesia, dan menjadi sorotan public pertelevisian.
Walaupun begitu, aku tak pernah tahu, karena aku bisa dibilang anak “kudet”.
Jarang nonton televise, dan hanya berkutik dengan buku KIMIA saja.hehe.
Ternyata beberapa waktu lalu, Evan bersama timnas U 19 Indonesia telah
bertanding melawan berbagai Negara di Asia dan membawa kemenangan.
Di suatu
sore…
“De,nih aku punya tiket nonton pertandingan sepak
bola. Mau nggak?” kata kak Dilla sambil menyodorkan tiket
“Dimana? Males sih -,-“ jawabku lemas
“Di GBK. Serius nih nggak mau? Evan ikut main lho.”
kata kak Dilla sembari merayuku
“Serius kakkkkk? Aku mau banget.” kataku histeris
“Oke. Besok siang kita berangkat.” kata kak Dilla
menginstruksikan
12 Oktober 2013 pukul 13.00…
Aku
menuju bandara yang terdekat. Kami berangkat bersama papa dan mama juga.
Sesampainya di Bandara,kita masih menunggu pesawat di check. Setelah beberapa
saat,kami fly dan sampai juga di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Darisana, kami
langsung menuju Stadion Gelora Bung Karno dengan taksi. Sesampainya disana,
sudah sesak sekali dengan para suporter dari berbagai daerah. Mama dan papa pergi
jalan-jalan di sekitar GBK. Sedangkan aku dan kak Dilla menerobos kerumunan
orang itu dan menuju tempat persiapan pemain.
Tiba-tiba
mataku langsung tertuju pada seorang cowok tampan yang sedang berdiri di ujung
pintu…
“Evannnnn…” teriakku memanggil cowok itu
“Deaaaa…” teriaknya balik.
Akhirnya,
aku bertemu dengan seseorang yang aku tunggu selama ini.
“Makasih ya udah mau datang. Aku seneng banget
kamu ada disini.” kata Evan
“Iya van. Bawa
Indonesia menang ya. Sekarang penentuan ada ditanganmu dan teman-teman timnas U
19. Ayo semangat !! Aku yakin kalian bisa..” kataku menyemangati Evan
“Oke de, akan aku buktikan. Do’akan aku ya.” kata Evan
Sekitar
pukul 19.30, pertandingan Indonesia vs Korea Selatan pun dimulai. Aku dan kak
Dilla pun menuju tribun bersama para supporter lain.Ramai riuh teriakan
penonton disana. Aku pun menyimak pertandingan dengan sungguh-sungguh sambil
teriak-teriak memanggil nama Evan.
Pada
menit ke 30, berawal dari umpan silang Ilham Udin Armaiyn, Evan Dimas mampu
membawa Indonesia unggul 1-0. Tapi selang beberapa detik, Indonesia kebobolan
oleh Korea Selatan dengan penaltinya. Walaupun lapangan becek karena hujan
deras, Evan dan teman-temannya tetap bermain cerdas. Dukungan ribuan supporter membuat
semangat tim garuda muda ini menyalak. Pada menit ke 49,Evan Dimas kembali
mencetak gol setelah mendapat umpan terukur dari Maldini. Indonesia menjadi
unggul 2-1. Stadion terbesar di Indonesia kembali bergemuruh setelah Evan Dimas
mencetak gol ketiganya pada menit 85. Evan Dimas hattrick….
“Evan keren banget…” gumamku
Beberapa
menit setelahnya, lagi lagi Indonesia kebobolan oleh Korea Selatan. Dan
Indonesia pun memperkuat pertahanannya. Setelah beberapa menit pertandingan,
sang wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Dan score
akhirnya adalah 3—2. Indonesia menang atas Korea Selatan yang merupakan juara
12 kali. Evan Dimas membawa Indonesia lolos dan akan menuju ke Piala Asia 2014
di Myanmar.
Beberapa
saat setelah itu, timnas U 19 Indonesia (anak asuhan Indra Sjafri) berselebrasi
sujud atas kemenangannya. Dan akupun menemui Evan dan timnas U 19.
“Selamat ya Evan.. Dan congratulations buat Garuda
Muda Indonesia. Kalian hebat. Kerjasama kalian luar biasa. Kalian adalah
bintang masa depan dan pahlawan untuk sepak bola Indonesia. Tetap semangat !!
Bawa Indonesia menang di piala Asia 2014.” kataku kepada mereka
“Makasih ya de… Ini semua berkat dukungan serta do’a
darimu dan seluruh rakyat Indonesia juga.” jawabnya
Terimakasih Tuhan..
Bagi kami negeri ini jiwa raga kami..
THE END