Minggu, 13 Oktober 2013

Cerpenku "Only you and Indonesia"



“Deaa…cepet ambil kunci mobilnya !!” suara itu menggema hingga ke ujung rumahku yang cukup luas ini.
“Iya bentar, suara lo kayak tikus kejepit aja kak. Huh.” jawabku kesal
          Kita adalah 2 bersaudara. Lebih tepatnya saudara kembar, Dea dan Dilla. Saat ini kita berada di satu sekolah yang sama. Satu kelas pula, di kelas XII Ipa 4 SMA 1 Surabaya.
          Hari ini, kak Dilla mengajakku ke sebuah GOR di Surabaya. Aku sih males banget sebenarnya. Paling diajak main basket lagi. Huh –,- Ya! Itu yang selalu dilakukan kak Dilla tiap hari minggu. Wajar saja sih, soalnya dia adalah basket mania. Dan kekasihnya (si Bagas) pun juga atlit basket. Tapi entah kenapa aku berkebalikan sekali dengan saudara kembarku ini, aku sama sekali tidak tertarik dengan olahraga.
          Sesampainya di GOR, kak Dilla memarkirkan mobil fortunernya,ambil bola basket di bagasi, langsung lari dan mendribble bola basketnya masuk ke dalam lokasi.
“Kak,tungguin aku dong !!!” teriakku kepadanya
“Ayo cepat lari… Kita tanding 1 lawan 1 !!” sahutnya sambil terus mendribble bola kesayangannya itu.
“Hah! Apa-apaan ! Jelas aku yang kalah dong -,-!” gerutuku
“Haha.. yang kalah teraktir makan ya !!” kata kak Dilla dengan tertawa penuh kemenangan
“haaahh modus !!” jawabku ketus
          Akhirnya, dengan berat hati aku ikut bermain dengan kak Dilla . Walaupun aku tidak pernah suka sama yang namanya basket, tetapi sedikitnya aku mengerti teknik-teknik bermain basket yang baik. Beberapa menit berlalu, dan benar saja aku kalah dari kak Dilla dengan score akhir 4-12.
“Sial.. harus nraktir kak Dilla deh-,-“ gumamku
          Kita berdua pun menuju ke warung makan terdekat, itung-itung sarapan. Seusai nraktir makan kak Dilla, aku kembali ke lapangan basket…
“Makasih Dea sayang buat traktirannya J Kita main lagi yuk ?” ajaknya
“Huuu.. ah males -,-“
“Jangan cemberut dong. Yaudah aku main sendiri deh.“
          Setelah itu,aku duduk di pinggir lapangan basket sambil melihat kak Dilla bermain basket. Gayanya seolah menyerupai Michael Jordan.
Tiba-tiba…
Duarr ! Aww !!! Aku teriak kesakitan… Kepalaku terkena lemparan bola cukup keras. Entah darimana asalnya bola itu, yang jelas bukan bola basket kak Dilla. Tiba-tiba segerombolan cowok dating menghampiriku…
“Maaf banget ya,aku benar-benar tidak sengaja.” kata salah seorang cowok keren,sambil mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri
“Gampang banget bilang maaf.. Sakit tau -,-“ jawabku ketus
“Perlu ke rumah sakit?” tanyanya sambil mengernyitkan keningnya
“Gak!” jawabku setengah berteriak
Tiba-tiba kak Dilla mendekatiku…
“Ada apa ini? Eh.. kak Evan!!” Tanya kak Dilla kepada segerombolan cowok itu
“Hey Dilla.. Ini, tadi nggak sengaja aku nendang bola terus kena kepalanya dia.” Jawabnya
“hahaaha.. kasihan banget nih anak. Kenalin kak, dia adikku. Namanya Dea.” kata kak Dilla sambil melirikku dengan tawa terbahak-bahak
“Oh ini adikmu. Maaf ya De, aku nggak sengaja beneran. Eh ya Dil, aku buru-buru nih. Kita mau latihan lagi,udah ditunggu pak Indra Sjafri. See you later.” katanya kepadaku dan kak Dilla sambil melambaikan tangan
          Setelah itu, kak Dilla duduk bersamaku di pinggir lapangan basket. Dia terlihat lelah sekali, dengan keringat bercucuran. Aku pun memberinya sebotol aqua dingin yang ku bawa di dalam tas.
“Thanks,de” kata kak Dilla
“Kak dil, tadi itu siapa sih? Kok akrab banget sama kamu?” tanyaku
“What? Kamu nggak tahu dia? Dia itu Evan Dimas Darmono,atlit sepak bola lulusan SMA Shafta Lontar Citra Surabaya. Sekarang dia jadi kapten timnas U 19 Indonesia. Posisinya sebagai gelandang!!” kak Dilla menjelaskan dengan detail
“Oh.” jawabku sepele
“Dasar kamu ini. Mentang-mentang juara OSN,terus kenalnya cuma sama KIMIA mulu.” kata kak Dilla
“Hehe.” tawaku kecil
          Setelah bercakap singkat, aku dan kak Dilla menuju ke parkiran. Dan kami pun langsung tancap gas dengan fortuner putih milik papa. Kami pulang menuju kompleks Grand Wisata Permai Surabaya. Sesampainya di rumah, aku masuk ke kamar,beres-beres dan tidur.
          Hari-hari telah berlalu…
          Aku menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Dalam bulan ini, ada banyak event lomba untukku dan kak Dilla. Otomatis  kami sibuk banget persiapan ini itu. Jadi nggak ada waktu buat olahraga bareng lagi.
          Hari ini adalah hari santai untukku dan kak Dilla,setelah beberapa lama mengikuti berbagai event perlombaan. Sayang sekali dalam event ini,kita belum menembus juara. Tetapi meskipun begitu, aku dan kak Dilla tetap semangat dan optimis karena dukungan mama dan papa yang tak pernah hentinya.
          Singkat cerita, kak Dilla mengajakku pergi jalan-jalan. Seperti dugaanku, dia mengajakku ke GOR seperti biasanya. Tetapi sekarang berbeda,kak Dilla tidak mengajakku bermain basket. Justru mengajakku masuk ke dalam stadion. Ternyata disana sudah ada Bagas dan beberapa teman SMA-ku yang sedang melihat latihan sepak bola di tribun. Aku pun ikut ngobrol dengan mereka sembari menyaksikan.
          Seusai latihan, para pemain sepak bola itu mendekati kami di tribun. Ternyata mereka adalah timnas U 19 Indonesia (bintang-bintang hebat Indonesia). Aku melihat ada kak Maldini,dkk. Dan aku juga melihat seorng cowok yang pernah melempar aku bola saat duduk di pinggir lapangan basket. Dia berbicara akrab sekali dengan kak Dilla dan Bagas. Aku hanya terdiam seperti obat nyamuk.
          Tiba-tiba cowok itu duduk mendekatiku. Lalu kak Dilla dan Bagas pergi dengan tawa-tawa kecilnya.
“Sial -,- aku di tinggal sendirian” gerutuku
“Hai Dea. Masih ingat aku kan? Oh iya, kita belum kenalan waktu itu. Namaku Evan Dimas Darmono. Biasa dipanggil Evan.  Kamu? tanya cowok itu untuk membuka pembicaraan
“ Hai juga kak Evan. Aku Violadea Maharani. Udah tahu kan nama panggilannya.” jawabku
“Panggil Evan aja. Jangan pakai “Kak”, aku belum tua lho,” katanya dengan tersenyum
“Oh..ii..iy..iyaya Evan” jawabku gugup
“Santai aja lagi. Kamu saudara kembarnya Dilla kan? Anak Olimpiade ciyee”
“Iya.. eh enggak kok. Hehe. Pasti kak Dilla yang suka ember.”
“Haha, iya dia sering nyeritain kamu.”
“Tuh kan -,-“
          30 menit kami berbincang. Evan menceritakan semua pengalamannya dengan bola. Dan aku terkejut, ketika dia bercerita kalau dia adalah bagian penting dari squad Timnas U 19 Indonesia. Dia adalah orang hebat, bintang Indonesia,juara piala AFF 2013 di Sidoarjo,Jawa Timur. Aku benar-benar tidak menyangka,bias kenal bahkan dekat dengan seorang “bintang” yang tampan rupawan menurutku. Hehe. Memang sih, dulu kak Dilla pernah cerita soal ini ke aku. Tapi dulu, aku benar-benar benci sama olahraga. Jadi tidak begitu “ngeh” dengar ceritanya.
          Sejak pertemuan singkatku dengan Evan, timbul dorongan untukku menyukai olahraga khususnya sepak bola. Setiap ada pertandingan bola, entah di televise atau di stadion terdekat, aku selalu menonton bersama teman-teman sekolahku, walaupun Evan tidak mengikuti pertandingan. Orangtuaku pun sampai terheran-heran dengan perubahan sikapku.
          Hari berganti hari, berganti minggu,bahkan berganti bulan. Sudah lama rasanya aku tak mendengar kabar Evan. Timbul rasa rindu yang mendalam dihatiku. Kata beberapa temanku, sekarang Evan lagi sibuk banget sama pertandingan bola. Dia sudah menjadi bintang terkenal di Indonesia, dan menjadi sorotan public pertelevisian. Walaupun begitu, aku tak pernah tahu, karena aku bisa dibilang anak “kudet”. Jarang nonton televise, dan hanya berkutik dengan buku KIMIA saja.hehe. Ternyata beberapa waktu lalu, Evan bersama timnas U 19 Indonesia telah bertanding melawan berbagai Negara di Asia dan membawa kemenangan.
          Di suatu sore…
“De,nih aku punya tiket nonton pertandingan sepak bola. Mau nggak?” kata kak Dilla sambil menyodorkan tiket
“Dimana? Males sih -,-“ jawabku lemas
“Di GBK. Serius nih nggak mau? Evan ikut main lho.” kata kak Dilla sembari merayuku
“Serius kakkkkk? Aku mau banget.” kataku histeris
“Oke. Besok siang kita berangkat.” kata kak Dilla menginstruksikan
       12 Oktober 2013 pukul 13.00…
          Aku menuju bandara yang terdekat. Kami berangkat bersama papa dan mama juga. Sesampainya di Bandara,kita masih menunggu pesawat di check. Setelah beberapa saat,kami fly dan sampai juga di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Darisana, kami langsung menuju Stadion Gelora Bung Karno dengan taksi. Sesampainya disana, sudah sesak sekali dengan para suporter dari berbagai daerah. Mama dan papa pergi jalan-jalan di sekitar GBK. Sedangkan aku dan kak Dilla menerobos kerumunan orang itu dan menuju tempat persiapan pemain.
          Tiba-tiba mataku langsung tertuju pada seorang cowok tampan yang sedang berdiri di ujung pintu…
“Evannnnn…” teriakku memanggil cowok itu
“Deaaaa…” teriaknya balik.
          Akhirnya, aku bertemu dengan seseorang yang aku tunggu selama ini.
“Makasih ya udah mau datang. Aku seneng banget kamu ada disini.” kata Evan
 “Iya van. Bawa Indonesia menang ya. Sekarang penentuan ada ditanganmu dan teman-teman timnas U 19. Ayo semangat !! Aku yakin kalian bisa..” kataku menyemangati Evan
“Oke de, akan aku buktikan. Do’akan aku ya.” kata Evan
          Sekitar pukul 19.30, pertandingan Indonesia vs Korea Selatan pun dimulai. Aku dan kak Dilla pun menuju tribun bersama para supporter lain.Ramai riuh teriakan penonton disana. Aku pun menyimak pertandingan dengan sungguh-sungguh sambil teriak-teriak memanggil nama Evan.
          Pada menit ke 30, berawal dari umpan silang Ilham Udin Armaiyn, Evan Dimas mampu membawa Indonesia unggul 1-0. Tapi selang beberapa detik, Indonesia kebobolan oleh Korea Selatan dengan penaltinya. Walaupun lapangan becek karena hujan deras, Evan dan teman-temannya tetap bermain cerdas. Dukungan ribuan supporter membuat semangat tim garuda muda ini menyalak. Pada menit ke 49,Evan Dimas kembali mencetak gol setelah mendapat umpan terukur dari Maldini. Indonesia menjadi unggul 2-1. Stadion terbesar di Indonesia kembali bergemuruh setelah Evan Dimas mencetak gol ketiganya pada menit 85. Evan Dimas hattrick….
“Evan keren banget…” gumamku
          Beberapa menit setelahnya, lagi lagi Indonesia kebobolan oleh Korea Selatan. Dan Indonesia pun memperkuat pertahanannya. Setelah beberapa menit pertandingan, sang wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Dan score akhirnya adalah 3—2. Indonesia menang atas Korea Selatan yang merupakan juara 12 kali. Evan Dimas membawa Indonesia lolos dan akan menuju ke Piala Asia 2014 di Myanmar.
          Beberapa saat setelah itu, timnas U 19 Indonesia (anak asuhan Indra Sjafri) berselebrasi sujud atas kemenangannya. Dan akupun menemui Evan dan timnas U 19.
“Selamat ya Evan.. Dan congratulations buat Garuda Muda Indonesia. Kalian hebat. Kerjasama kalian luar biasa. Kalian adalah bintang masa depan dan pahlawan untuk sepak bola Indonesia. Tetap semangat !! Bawa Indonesia menang di piala Asia 2014.” kataku kepada mereka
“Makasih ya de… Ini semua berkat dukungan serta do’a darimu dan seluruh rakyat Indonesia juga.” jawabnya
Terimakasih Tuhan..
Bagi kami negeri ini jiwa raga kami..

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar